Minggu, 27 Desember 2015

Tapak Naga Part 2

Hembusan angin malam terasa dingin mencekam di kampung babakan. Riuh suara binatang malam menambah keangkeran di kampung babakan itu. Terdengar kabar manusia jadi-jadian berupa manusia kera berkeliaran mencari mangsa darah perawan. Tentu membuat hati warga yang mempunyai anak gadis menjadi takut, kalau-kalau anak gadisnya menjadi korban Manusia kera itu.

Ronda di adakan oleh warga setempat. Kaum lelaki siap siaga lengkap dengan persenjataan masing-masing. Banyak juga warga yang takut untuk keluar rumah, dikarenakan manusia kera itu sangat kejam dan sadis dalam membunuh lawannya apabila mencoba menghalagi ke-inginannya dalam mencari mangsa darah perawan.

Sementara itu Surtini gadis belia berusia 15 tahun anak dari Pasangan Ki ageng setu dan Nyi Dasinem duduk bersimpuh disamping kedua orang tuanya. "Abah..Surtini takut kalau makhluk kejam itu Tini!!" ujar Surtini dengan wajah penuh cemas. "Tenang anakku. Diluar sana banyak yang ronda, tentu tidak akan terjadi apa-apa." Nyi Dasimah menenangkan anak gadis semata wayang dari pernikahannya dengan Ki Ageng Setu sebagai sesepuh Kampung Babakan.



Namun baru saja Nyi Dasinem berucap, tiba-tiba terdengar suara begedebukan didepan rumah, disusul suara erangan kesakitan. Disusul suara Tonogiri anak buah dari Ki Ageng Setu berteriak lantang. "Tangkap makhluk itu! Jangan sampai lolos." Lalu suara kentungan petanda bahaya terdengar bertaluh-taluh.

Sutini yang mendengar merapatkan tubuhnya ke Nyi Dasinem. rasa takut yang amat sangat dirasakan olehnya. Ia tidak mau di jadikan korban manusia kera itu. Sementara itu suara riuh masih saja terdengar begedebukan. di luara sana.

Di susul suara siuran senjata tajam memekakan telinga. Bahkan suara mengkretek tilang patah terdengar melinukan.

Nyi Dasinem berteriak memanggil Aki Ageng Setu. "Kang Mas dimana.," Suara Nyi Dasinem terdengar lantang. ia takut suaminnya Ki Ageng Setu turut bertarung. Baru saja berkata begitu. Ki Ageng Setu keluar dari kamarnya sambil menghunus sebilah keris pusaka. Keris yang di wariskan turun menurun dari Mpu Tantri.

"Aku harus turun tangan Nyai! Aku malu sebagai orang di tuakan tidak terlibat dalam meringkus Siluman Kera jahat itu." seru Ki Ageng Setu penuh nanar.

"Tapi Kang Mas.. Kang Mas tak usah menurunkan tangan jahat. Cukup perintahkan saja warga!" Ucap Nyi Dasinem.

"Tidak Nyai!"

Baru saja berkata begitu. Ki Ageng Setu segera melompat keluar. Dengan suara lantang seraya berkata: "Cincang sampai lumat, manusia siluman itu!"

Mendengar suara Ki Ageng Setu, tentu menyemangatkan kembali nyali para warga yang sempat menciut, karena lima orang baru saja merenggang nyawa dengan kepala hampir pupus, akibat terkena cakaran Manusia Kera itu.

Melihat kehadira Ki Ageng Setu, manusia kera itu langsu g menyeringai lalu mencicit seperti suara kera. Ia membukukkan badan, kedua tangannya menyentuh tanah lalu menguarkan suara mengembos. Warga yang mendengar jadi menggidik. Tampak mata memerah memancar dari manusia kera itu. Namun Ki Ageng Setu menghadapi dengan tenang

Ia sudah terbiasa menghadapi manusia-manusia jahat. Hanya manusia yang ia hadapi kali ini adalah manusia jadi-jadian sebangsa Siluman. "Aku tidak takut menghadapimu Siluman kera!" Batin Ki Ageng Setu.

Manusia Kera mendengus. "Hai Ki Ageng. Serahkan anak gadismu!" Ucap Manusia Kera meminta.

Ki Ageng menyilangkan tangannya lalu berujar; "Hai manusia siluman, bertobatlah atas semua kejahatanmu. Dosamu sudah setinggi langit dan sedalam bumi."

"Eh...Ki aki.. keren sekali bicaramu!" Kata Manusia Kera menyeringai. "Aku hitung sampai tiga, kalau tidak kau serahkan anak gadismu, siap-siaplah untuk merenggang nyawa." Ancam Manusia Kera.

Di ancam seperti itu, Ki Ageng Setu tidak gentar. Ia malah melangkah maju sekira stengah tombak lalu melompat kemuka. Di depan manusia kera itu, Ki Ageng menghardik keras. "Manusia Siluman jahat, aku peringatkan padamu, sudahilah membuat kemungkaran di dunia ini. Kehebatanmu pasti akan berakhir, karena di atas langit masih ada langit."Peringatan yang disampaikan Ki Ageng Setu tidak di hiaraukan. Ia mencicit laluenguarkan suara menggembor. Matanya semakin merah menyalah, petanda orang ini sudah dirasuki siluman jahat.

Ki Ageng Setu menganyunkan tangannya ke warga agar mundur. Ki Ageng Setu ingin mengetes kehebatan manusia kera, sekaligus kesaktian keris pusaka itubreet..

Sobek baju luar Ki Ageng, lalu memerah, Ki Ageng sempat meringis kesakitan namu ia tahan dengan telapak kirinya, tentu sudah di aliri ilmu tenaga dalam sehingga lukanya kembali merapat. Lalu Ia beringsut mundur untuk mengambil kuda-kuda kembali.

Sedangkan para warga hanya menyaksikan dengan hati was-was akan keselamatan Ki Ageng Setu sebagai sesepuh kampung. Mereka hanya berpandangan satu sama lainnya.

Sementar itu Nyi Dasinem dan putrinya Sutini, menyaksikan dari balik jendela dengan hati takut sambil menangis Nyi Dasinem memeluk putrinya erat-erat. "Ibu..aku takut," ujar Sutini. Ia segera mencabut keris itu dari sarung nya dan mengambil kuda-kuda gerakan menyerang lebih dulu. Tak lama kemudian Ki Ageng Setu maju sambil menghunus kerisnya ke dada manusia kera.

Manusia kera itu mengelak kekiri. Dengan kedua tangan di angkat dan jari jemarinya terbuka siap mencakar.

Nyaris cakaran manusia kera merobek pipi Ki Ageng Setu, ia segera memalingkan wajahnya. Terasa angin mengembus dari kuku-kukunya yang tajam. Tak tinggal diam ia segera membalas dengan tebasan ujung kerisnya keatas tepat mengenai batang leher manusia kera itu. Tapi kasip, manusia kera lebih dulu menyerang dengan tangan kirinya mencakar lengan bahu Ki Ageng Setu.

Ki Ageng melompat sambil terus menghujamkan kerisnya dengan membabi buta. Tapi manusia kera itu terus mengelak seakan-akan seperti ada yang memberitahu serangan yang diberikan oleh Ki Ageng Setu. Sehingga setiap gerakan Ki Ageng Setu mudah dielakan. 

Sepuluh jurus sudah, nafas Ki Ageng Setu tersengal-sengal. Di karenakan usianya yang sudah uzur sehingga nafasnya terasa pendek. Tercekatlah hati para warga yang melihat pertarungan itu.

Seseorang warga menggeram sambil mengepalkan tangannya, lalu berteriak lantang. "Mari kita habiskan mahkluk ini," Sontak seluruh warga bersiap untuk maju membantu Ki Ageng Setu yang mulai kewalahan.

"Semuaa..maju.."

Berhamburan para warga mengeroyok. Dengan senjata maCraaas..

Sabetannya mengenai punduk manusia kera itu. Tapi aneh tidak ada darah yang keluar dari tubuhnya, bahkan luka bekas sabetannya kembali rapat. "Gila.." batinnya. Tiba-tiba manusia kera itu menoleh kepadanya. Ada rasa takut sehingga membuat hatinya menciut ketika mata memerah manusia kera itu menyolot tajam kearahnya. "Mati aku," batinnya.

Wuuut..

Cakaran manusia kera itu memapas lehernya sekira sejengkal lagi, tapi "Buuuk,," dari jurusan barat sekepel tanah liat meluncur cepat, tepat mengenai lengan manusia kera itu ketika ingin menggaruk orang yang telah menusuk punduknya.

Mujurlah warga itu, ia selamat dari maut, lalu ia berpaling ke arah yang melempar segumpal tanah yang menyelamatkan nyawanya. Lemparannya tidak olah-olah kerasnya membuat manusia kera itu sempat meringis kesakitan. "Grrrrrg...grrrrg..." Manusia kera itu mengereng.

Tampak dari kejauhan pemuda tampan dan keren muncul dari arah barat. Jubah merah yang di kenakannya menggelebar-gelebar tertiup angin. Rambutnya sedikit gondrong tapi tertata rapi dengan ikat kepala berwarna merah dan bergambar seekor naga. Di pinggangnya terselip senjata cambuk tidak terlalu panjang.sing-masing membabat dan menyerang manusia kera itu. Tetapi manusia itu sangat lincah gerakannya , membuat warga yang mengeroyoknya kecele.

"Bangsat ini hebat sekali," gumam. salah satu warga. Senjatanya berupa arit besar diangkatnya tinggi-tinggi siap menghujamkan ketika kesempatan ia dapatkan ketika manusia kera itu dalam keadaan membelakanginya."Pendekar Tapak Naga 01" Celetuk seorang warga tadi.

Senanglah para warga melihat kedatangan pendekar yang hebat, disegani segala perguruan silat delapan penjuru mata angin.

Ki Ageng Setu tercekat hatinya melihat kedatangan Pendekar yang berjuluk Tapak Naga 01 ini. Ki Ageng segera menghampiri Pendekar itu, namun baru beberapa langkah, Manusia kera tahu-tahu melompat kedalam rumah Ki Ageng Setu. Gerakan dangat cepat sekali laksana kilat tahu-tahu ia sudah berada di atas genting rumah Ki Ageng Setu. Ia terlihat seperti membawa di pundaknya tubuh gadis remaja.

Habis berkata begitu Pendekar Tapak Naga 01, segera berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Tahu-tahu tubuhnya sudah tak terlihat.

Nyi Dasinem keluar rumah lalu memeluk Ki Ageng Setu. "Kang Mas... bagaimana nasib anak kita," ujar Nyi Dasinem dengan menitikkan air mata. "Sudah nyai.. kita berdoa saja agar Sutini putri kita tidak terjadi apa-apa dengannya." kata Ki Ageng Setu meyakini Nyi Dasinem." Kita percayakan saja pada Pendekar Tapak Naga.

***

Terdengar suara gegusrakan di serumpun ilalang sangat lebat. Suara gegusrakan itu menuju ke arah selatan. Langkahnya sangat cepat seperti sedang melompat bukan berlari.
Pendekar Tapak Naga ketika itu sedang mengejar suara gegusrakan itu, tapi sayang sang pendekar ketinggalan langkah.

"Kang Mas.. Sutini Kang Mas." suara itu terdengar dari dalam rumah, suara itu adalah suara Nyi Dasinem. "Kang Mas .. Suitini,, Sutini di bawa kabur oleh Siluman itu,!" Ujar Nyi Dasinem menangis.

Mendengar itu Ki Ageng Setu mendengus lalu berkata. "Kejar Siluman itu!" Sontak seluruh warga mengejar. Namun Pendekar Tapak Naga mencegahnya. "Jangan, biar aku saja yang membututinya. Aku ingin tahu di mana tempat persembunyiannya."Ah.. kemana makhluk itu," gumam Pendekar Tapak Naga di dalam hati. "Aku harus segera menyusul agar aku tahu di mana makhluk itu berada.

Baru saja berkata begitu, tiba-tiba Pendekar Gapak Naga mendengar suara klonceng kaleng kecil yang di kocok-kocok. Suara itu berasal dari timur. Pendekar Tapak Naga menoleh ke arahnya.

klenteng.. klenteng.. klenteng

Suara itu semakin mendekat jelaslah siapa yang memainkan kaleng rombeng itu, rupanya seorang pengemis dengan pakaian compang-camping dan dekil juga kumel. Orang itu memakai topi catuk, topi berkerucut itu yang sering dipakai petani buat kesawah.

Pendekar Tapak Naga kerenyitkan dahi melihat seorang lelaki tua yang aneh. Seperti orang gila, tampak ia berbicara sendiri entah apa yang di bicarakannya.

Pendekar Tapak Naga mencoba menyapa. "Maaf orang tua. Apakah orang tua melihat orang berlari kearah orang tua?!" kata Pendekar Tapak Naga. Yang di tanya malah cengar-cengir, lalu kembali memainkan klenengannya. Karena yang ditanya hanya diam akhirnya Pendekar Tapak Naga tidak melanjutkan pertanyaannya, ia langsung berlalu dari Orang Tua aneh itu.

Tapi baru beberapa langkah si orang tua aneh itu memanggilnya. "Hai anak muda," Pendekar Tapak Naga menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. "Tidak usah kau kejar makhluk itu. Aku tahu tempat persembunyiannya. Makluk itu tidak bisa di bunuh!" Orang tua aneh i"Em...dari mana aku harus mendapatkan 7 mata air bidadari itu!" kata Pendekar Tapak Naga.

Kembali si orang tua membunyikan kaleng rombengnya. Matanya mengangkat keatas sambil komat-kamit lalu kembali menatap Pendekar Tapak Naga. "7 air mata itu berada di kawah Gunung Salak."

"Wah jauh sekali," tukas Pendekar Tapak Naga.

"Ya sudah terima atas infonya kisanak. Tapi aku harus melepaskan dulu putri dari Ki Ageng Setu dari genggaman makhluk itu," ujar Pendekar Tapak Naga lalu kembali berlari dengan ilmu meringankan tubuh kearah Manusia kera itu menghilang.

***

Senja hampir tiba. Suara burung kadasih terdengar sangat santar. Suaranya merdu tapi sangat membuat bulu kuduk merinding. Isyarat akan kematian akan datang sebagai mitos yang di percaya. Di dalam Goa seukuran tubuh manusia dewasa lubang pintu menuju goa itu sangatlah kecil. Sudah pasti akan sempit didalamnya, pikir Pendekar Tapak Naga 01 terpaku di depan rongga goa itu.
tu berujar.

"Kalau kamu mau membunuhnya harus dengan mata air 7 bidadari."

Mendengar itu Pendekar Tapak Naga mengkernyitkan kening. "7 Mata air bidadari."

"Ya dengan air 7 mata air bidadari, ia akan luntur kedikjayaannya, dengan cara di siram kewajahnya." terang orang tua aneh itu sambil mengkloneng-klonengkan kalengnya."Apa mungkin makhluk jadi-jadian itu berada di dalam," Pendekar Tapak Naga membatin. "tapi aku harus menyelidiki kedalam."

Ia melangkah sekira dua tombak dari rongga goa, tiba-tiba terhenti. Lapat-lapat terdengar suara mengembos dari dalam goa itu. Ternyata dugaannya benar. Manusia kera itu berada didalam goa.

Tidak mau ceroboh, Pendekar Tapak Naga berteriak lantang memanggil. "Wahai Manusia siluman jahat, keluar kamu dari dalam sana, serahkan putri Ki Ageng Setu padaku. Atau kau hadapi aku!"

Tak ada jawaban. Pendekar Tapak Naga kembali berkata. "Aku perngatkan..."

Baru saja berkata begitu, tiba-tiba suara mengecit seperti kera namun suara itu menggema sehingga seperti suara Kera besar atau gorila. Pendekar Tapak Naga beringsut mundur. Ia berdengus bersiap mengerahkan tenaga dalam.

Benar saja, tak lama kemudian sosok tubuh penuh bulu lebat di sekujur tubuhnya serta hitam dan wajah seperti kera dengan mata merah padam seraya menguarkan sesekali suara mengembor, seakan menahan marah. Makhluk itu menyeringai.
Pendekar Tapak Naga tak berkesip. Aliran darahnya sudah di aliri ilmu Naga Melingkar Bulan, ilmu penahan serangan tak terduga.

"Serahkan putri Ki Ageng Setu!" Pinta Pendekar Tapak Naga menyentak. "Jangan sampai habis kesabaranku, sehingga aku menurunkan tangan jahat."

Manusia Kera itu merenggangkan tangannya lalu menyentuh tanah seakan ingin melompat dengan gaya khas seekor kera. Lalu laksana kilatbia melompat kearah Pendekar Tapak Naga.

Dengan cepat pula Pendekar Tapak Naga mencelat selangkah kebelakang. Ketika manusia kera itu melabrak cakarannya ke wajah Pendekar Tapak Naga, ia mengelak.

Lalu kaki kanan menendang kearah perut Manusia kera, namun kasip, manusia kera kembali menyerang melompat kearah muka. Dengan sigap Pendekar Tapak Naga balik pulang tendangannya.

Sreeet

"Ah..." Pendekar Tapak Naga memegang bahunya. Dilihat telapak tangannya yang sudah memerah dengan darahnya. Cakaran Manusia kera itu merobek bahunya.

Dan sementara itu, manusia kera berdesis sambil menggeleng-gelengkan kepala, kembali menyerang Pendekar Tapak Naga ketika Pendekar Tapak Naga meringis akibat lukanya. Ia terkejut tahu-tahu cakaran manusia kera mengenai pinggangnya. Ia segera melompat salto satu outaran kebelakang.

"Khuf...gila ganas sekali makhluk ini!" Gumamnya didalam hati. "Aku harus menguarkan ilmu Naga Bendung Tanggul.

Pendekar Tapak Naga mengangkat kedua tangannya keatas, lalu disatukan telak tangannya sambil ditarik kebawah menghembuskan nafas dari mulut. Saat itu juga sinar biru keluar dari telapak tangannya. terlihat juga asap putih mengepul ketika telapak tangannya di buka.

Wuuus...

Sinar itu mengulung-gulung siap di hentakan kearah manusia kera itu. Di ulurkan kedua tangan dengan membuka sinar putih itu melabrak cepat ke arah manusia kera.

"Ah..." Pendekar Tapak Naga memegang bahunya. Dilihat telapak tangannya yang sudah memerah dengan darahnya. Cakaran Manusia kera itu merobek bahunya.

Dan sementara itu, manusia kera berdesis sambil menggeleng-gelengkan kepala, kembali menyerang Pendekar Tapak Naga ketika Pendekar Tapak Naga meringis akibat lukanya. Ia terkejut tahu-tahu cakaran manusia kera mengenai pinggangnya. Ia segera melompat salto satu putaran kebelakang.

"Khuf...gila ganas sekali makhluk ini!" Gumamnya didalam hati. "Aku harus menguarkan ilmu Naga Bendung Tanggul.

Pendekar Tapak Naga mengangkat kedua tangannya keatas, lalu disatukan telak tangannya sambil ditarik kebawah menghembuskan nafas dari mulut. Saat itu juga sinar biru keluar dari telapak tangannya. terlihat juga asap putih mengepul ketika telapak tangannya di buka.

Wuuus...

Sinar itu mengulung-gulung siap di hentakan kearah manusia kera itu. Di ulurkan kedua tangan dengan membuka sinar putih itu melabrak cepat ke arah manusia kera.

Buuk..

Sinar itu tepat mengenai dada manusia kera. "Arrrgh..." Ia terhuyung-huyung kebelakang. Kesempatan tidak disia-siakan oleh Pendekar Tapak Naga 01, untuk kembali menyerang. Kali ini Ia menguarkan ilmu Naga Genit Pemecah Batu. Kedasyatannya tidak olah-olah hebatnya. Sinar Panas dari ilmu membuat bulu-bulu manusia seperti terbakar.

Ketika itu juga rasa panas itu menjalar keseluruh tubuh manusia kera itu. Ia bergelimpangan lalu kembali bangun berdiri sambil menguarkan suara mengencit. Aneh ia tidak terbakar sedikitpun. Padahal Ilmu Naga Genit Pemecah Batu, tidak olah-olah dasyatnya. Tidak sedikit Pendekar lain tewas oleh ajian ini yang dimiliki Pendekar Tapak Naga 01.

"Benar-benar hebat makhluk jelek ini!" Pendekar Tapak Naga berujar didalam hati.

Baru saja bergumam begitu. Tiba-tiba manusia kera melompat kedahan pohon yang tidak begitu besar. Lalu sekejab mata ia sudah menghilang melompat entah kemana. Pendekar Tapak Naga kecele. Dengan tertegun dihatinya memuji kehebatan manusia jadi-jadian ini, ilmu kesaktiannya bisa di tahan.

Berniat ingin mengejar, namun hatinya terpatri kepada wanita yang berada didalam goa itu. Bukan lain putri Ki Ageng Setu yaitu Sutini yang disekap oleh Makhluk siluman kera itu.

"Aku harus membawa pulang kembali Sutini." ucap Pendekar Tapak Naga didalam hati. "Tugasku kali ini hanya menyelamatkan. Suatu saat akan aku bunuh manusia kera itu."

Ia segera masuk kedalam goa yang hanya sebesar badan orang dewasa. Namun ketika Pendekar Tapak Naga melongok kedalam, alangkah terkejutnyaia melihat setiap sisi dinding goa banyak tulang-belulang manusia. Bau amis darah juga tercium menyengat rongga hidung. "Tempat laknat," gerutu Pendekar Tapak Naga.

"Hikz.. hikz.. hikz.." Lapat-lapat terdengar suara wanita menangis. Suara itu adalah suara Sutini putri Ki Ageng Setu. Pendekar Tapak Naga segera menuju arah suara itu.

Baru beberapa langkah, Pendekar Tapak Naga melihat seorang wanita terikat dengan duduk memeluk kakinya. Setelah memperjelas pandangannya. Dan memang benar itu adalah Sutini. Ia segera menghampiri lalu membuka ikatan yang membelenggu tubuh Sutini.

Alangkah terkejutnya Sutini ketika tubuhnya di angkat ke bahu Pendekar Tapak Naga. Ia memukul dada Pendekar Tapak Naga, karena ia pikir adalah manusia kera.

"Sutini..tenang! Aku ini akan menolong kamu." kata Pendekar Tapak Naga. "Aku akan membawamu pulang kembali ke ayahmu, Ki Ageng Setu,"

"Tapi maaf, aku akan mentotok aliran darah kamu terlebih dahulu."

Pendekar Tapak Naga 01, menotok leher Sutini sehingga ia tidak bisa bergerak meronta. Dengan cekat Pendekar Tapak Naga segera membawa tubuhnya, keluar dari Goa itu, kembali membawa pulang untuk diserahkan kepada kedua orang tuanya, Ki Ageng Setu dan Nyi Dasinem.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar