Baru saja matahari tergelicir dari ufuk barat. Warga desa Pengasinan bersiap dengan kesibukan masing-masing. Namun yang paling dominan sebagai petani tembakau. Susana riuh nyanyian burung berkicau begitu merdu diiringi suara ayam jantan berkokok menyambut mentari bersinar terang dan menghangatkan hari. Tapi tak berapa lama susana indah menjadi mencekam dengan kedatangan pasukan berkuda dengan sangat riuh meneriakan yel-yel kematian. Suara derap kuda menyentak membuat debu berterbangan.
"Lari... Perampok cakar ulung datang..!" Teriak santar seorang lelaki berperawakan kurus sambil memukul kaleng kecil sebagai isyarat bahaya akan datang. Lelaki itu adalah kepala dusun Deaa Pengasinan.
Sontak para warga yang mendengar peringatan itu berlari berhamburan untuk mencari tempat persembunyian. Kaum wanita dan anak-anak terpaksa harus diberi perlindungan lebih utama, khususnya bagi yang masih gadis. Karena Perampok Cakar Ulung bukan hanya merampok dan membunuh siapa saja yang meghalanginya juga suka memperkosa wanita muda dan membawa kabur untuk di jadikan wanita penghibur.
"Cepat nak! Naik tebing itu untuk bersembunyi!" Wanita paruh baya namun masih terlihat seksi dan cantik tubuhnya itu bernama Sulastri, istri dari Dusun Desa Pengasinan.
"Ibu..Aku takut!" Tangis anak lelaki kecil itu di dalam dekapan Sulastri. "Jangan takut! Ibu akan melindungi mu," Sulastri segera mengambil langkah cepat sambil menggendong anak lelaki itu ialah putranya berusia 7 tahun.
Ketika itu juga kaum laki bersiap menghadang dengan persenjataan masi g-masing. Kepala Dusun Desa Pengasinan yang bukan lain suami Sulastri siap memberi aba-aba. Sebilah pedang digenggam menggantung di pinggangnya. Sebagian lagi menggunakan seperti tombak, parang dan senjata lainnya. Sementara derap langkah kuda perampok Cakar Ulung semakin mendekat. Lelaki dengan badan tegap mempunyai bawuk meranggas disukujur pipinya dan berwajah garang, berada di pihak depan. Sambil memutar-mutarkan senjata berbentuk kapak, orang ini berteriak lantang. "Ayo kawan-kawan, kita bersenang-senang hahahaha."
Sepuluh tombak lagi warga desa Pengasinan siap bertempur. Banyak juga dari mereka merasa ketakutan. Kematian akan didepan mata. Namun demi menjaga harta dan tanah mereka siap mati. Tibalah waktu yang menegangkan, salah satu dari mereka melompat dari persembunyiannya, pasang badan memberi semangat kepada yang lain. Seraya berteriak lantang. "Demi Desa kita, dan demi kehormatan anak cucu kita, tak ada sejengkalpun para perampok itu mengambil dari kita." Berkobarlah semangat bertempur didada mereka. "Tak akan aku biarkan mereka berbuat onar didesa kita," sambut salah satu pemuda. "Yah...Mari kita pertahankan harga diri kita." sambung Kepala Dusun Pengasinan yang sudah bersiap memimpin penghadangan.
Sudah banyak Perampok Cakar Ulung berbuat kejahatan di muka bumi. Julukan cakar ulung karena partai persilatan mereka sebagai cakar maut yang di ketuai oleh Bandusena Pendekar dari golongan hitam yang terkenal dengan jurus cakar macan yang mematikan. Bandusena pun mendirikan perguruan Cakar Ulung dan menjadi partai persilatan yang sangat di segani di dunia persilatan baik golongan hitam maupun dari golongan putih.
Tibalah mereka saling berhadapan. Melihat warga Desa Pengasinan sudah menyambutnya, tentu membuat Bandusena tersentak: "Ck.. Ck.. Ck..Rupanya kedatangan kita sudah di sambut," ucap Bandusena. "Rupanya kalian sudah berani mati, apakah mau aku jadikan pekedel hahahah," salah satu anak buah Bandusena menyeringai. "Hahahaha," Sontak seluruh anak buah Bandusena tertawa. "Hai kamu kemari!" Panggil Bandusena sambil menunjuk kearah seorang lelaki berbadan kurus, ternyata Kepala Dusun Pengasinan suami Sulastri.
"Apa..! Jawab Kepala Dusun itu sambil menunjukkan daun telinganya maksudnya untuk mengejek.
"Banar-benar sudah berani kalian kepada kami." kata Bandusena. "Cepat serahkan semua upeti untuk minggu ini."
"Maaf.. Kali ini kami sudah muak dengan kalian, kami tidak akan meyerahkan hasil panen kami ke kalian." Kepala Dusun Pengasinan menjawab.
"Eh.. Eh.. Eh.. Keren sekali kata-katamu," Bandusena menyeringai. "Aku hitung sampai tiga sebelum kami menurunkan tangan jahat kepada kalian. Sehingga kalian akan menyesal. Atau memang tidak ada penyesalan karena kalian sudah tidak bernyawa ha..ha..ha"
Bandusena tertawa gelak-gelak disusul anak buahnya.
Menedengar ejekan Bandusena, seorang lelaki penuh wibawa, menyentak "Koe.. Kami tidak takut mati, kami sudah siap menyusul kematian kami," Setelah berkata begitu, lelaki itu bernama Kidaman, langsung menarik goloknya. Lalu mengacungkan tinggi-tinggi. "Habiskan mereka...!" Kidamana berteriak lantang membuat darah warga yang lain mendidih, sontak maju kedepan untuk menyerang.
Anak buah Cakarulung pun bersiap menjalankan komando dari sang pemimpim mereka dengan sigap. Senjata tajam di acungkan tinggi-tinggi siap menebas apa yang ada didepannya. Ketika Bandusena memberi komando, semua anak buahnya turun berhamburan dari kudanya. Meringkik dengan posisi kaki keatas. "Bantai semua yang mencoba yang melawan kita!" ucap Bandusena suara lantang. "Ambil semua hasil panen mereka. Jangan ada yang tersisa.!" Lanjut Bandusena sambil melompat dari kudanya. Golok dikuarkan dari sarungnya, kilapan sinarnya menggentarkan siapa saja yang melihatnya.
Sementara itu Kidaman, sebagai pemimpin warga Pengasinan dan Kepala Dusun, siaga penuh dengan keahlian masing-masing menggunakan senjata dan ilmu persilatan.
"Ciaaat...." Dengan garang dan cekat Kidaman meyerang kearah Bandusena. Jurus sepunyanya yang dimiliki Kidaman memang tidak seberapa tinggi, lima kali diatas Bandusena, orang yang sudah banyak melintang didunia persilatan. Namun Kidaman tidak turun nyali. Ia membabat penuh nafsu ke tubuh Bandusena. "Khuuf ... Eaa...." pukulan dan sabetan senjata tajam yang di mainkan Kidaman membuat Bandusena sena kewalahan.
"Kutu kupret! Hebat juga orang ini!" Gumam Bandusena. Ia segera mundur kebelakang mengambil kuda-kuda jurus selanjutnya. Jurus itu dinamakan jurus elang pemakan ular. Jurus yang sangat mematikan. "Akan ku buat jebol isi perutmu kisanak," Dengan bersalto sekira dua putaran tahu-tahu Bandusena sudah berada di depan Kidaman. Ia memukul dada, dengan cekat Kidaman mengelak kekiri sambil menendang paha Bandusena. Namun kasip Bandusena sudah mengetahui lalu ia angkat kakinya, lalu menendang kesamping 'buuk' Kidaman terkejut sambil memegang dadanya, lalu terhuyung kebelakang dan jatuh duduk. Rupanya tendangan Bandusena membuatnya ia tersuruk kebelakang. Hawa panas dirasakan bekas tendangan Bandusena.
Belum saja Kidaman berdiri, serangan datang lagi Kini Kidaman tidak bisa mengelak. Pukulan Bandusena tidak olah-olah kerasnya menghantam kepalanya. Terasa rengkah tulang kepala Kidaman. Ia merasa mual, lalu dimuntahkan ternyata darah sudah membanjiri tubuhnya. Pandangan pun menjadi gelap disusul sesak nafas yang sangat amat. Tak lama kemudian Kidaman tersungkur ketanah lepaslah nyawanya.
Melihat Kidaman sudah tidak bernyawa, sontak yang lain menjadi menciut keberaniannya, mana mungkin mereka bisa mengalahkan Perampok Cakar Ulung, sedangkan orang yang menjadi harapan karena sedikit punya kepandaian silat kini sudah tidak bernyawa.
"Hahahah...hai lihatlah! Ketua kalian sudah tewas di tanganku. Apakah kalian masih berani untuk melawan kami?!" tukas Bandusena sambil menginjak tubuh Kidaman yang sudah tak bernyawa. "Siapa yang mau menyusul orang bodoh ini?" ancam Bandusena menyeringai. "Kalian tidak akan mampu melawan kami!"
"Tutup mulutmu." Tiba-tiba dari arah barat seorang lelaki dengan penampilan keren datang sambil memainkan senjata cambuk di putar-putar. Seorang pemuda dengan pakaian berwarna hijau memakai ikat kepala putih dan bergambar Naga sedang melingkar dan menguarkan api dari mulutnya.
"Pendekar Tapak Naga 01," Bandusena terkejut melihat kehadiran Pendekar Tapak Naga di hadapannya. Pendekar Tapak Naga, pendekar paling di segani didunia persilatan. Baik dsri golongan putih maupun dari golongan hitam. Namun Bandusena tidak mau kehilangan muka didepan anak buahnya. Walaupun hatinya sedikit gentar. "Jangan turut campur urusan kami Kisanak!" kata Bandusena menyeringai.
"Apa yang kalian perbuat atas Desa ini. Membuat onar di muka bumi, tentu akan berhadapan denganku!" ucap Pendekar Tapak Naga 01.
Tidak mungkin Bandusena menyerah begitu saja. Ia akan malu sebagai ketua perguruan silat Cakar Ulung kepada anak buahnya. "Aku perintahkan kisanak untuk segera meninggalkan tempat ini," ancam Bandusena. "Atau kami akan menurunkan tangan jahat sehingga terjadi sengketa di antara kita."
"Emmm..keren sekali kau berucap," sambut Pendekar Tapak Naga 01.
"Biar bagaimanapun, perbuatan jahatmu harus dihentikan. Dosamu sudah berkalang dosa sepenuh langit dan bumi," lanjut Pendekar Tapak Naga 01.
"Cuih..." Bandusena berludah. "Kalau begitu maaf aku kisanak, kalau aku akan mencincang tubuhnya dan akan aku kasih anjing hutan untuk sarapan paginya." Perkataan Bandusena membuat anak buahnya tertawa gelak-gelak "Hahaha..." "Cepat lekas pergi," usir Bandusena dengan mata menyolot tajam. "Yang di usir malah tertawa mengejek. "Em...jaga bacot loe, dan berpikir sebelum berbicara?"
Geramlah Bandusena, terdengar suara bergeretekan, "Bangsat! Akan ku sobek mulutmu!" Bandusena melompat menerjang keras ke arah tubuh Pendekar Tapak Naga 01. Melihat serangan itu, Pendekar Tapak Naga, segera beringsut kebelakang seraya mengambil kuda-kuda. Bandusena kembali menyerang dengan menggunakan jurus dasar yang ia miliki, yaitu jurus Macan Mendengkur. Jurusnya sangat sebat. Ia mengerang, jari-jemarinya terbuka seperti ingin mencakar.
"Ciaaat," Pukulan mencakar di alamatkan kewajah Pendekar tapak naga. Tapi Tapak Naga segera mengelak kekiri sambil mengulurkan tangannya untuk menangkis cakar Bandusena.
Serangan dengan jurus Macan Mendengkur bisa di elakan, Bandusena kembali menguarkan jurus Macan Mencakar Langit. Kukunya tampak menguarkan sinar putih. Melihat itu, semua yang menyaksikan hanya bisa mundur kebelakang untuk melihat kedua manusia terhebat di dunia persilatan itu bertarung.
Dua puluh jurus sudah mereka bertarung. Bandusena merasa kewalahan sedangkan Tapak Naga hanya menggunakan jurus dasar tentu melawan dengan santai. Karena tidak sanggup melawan hatinya menciut juga merasa malu di hadapan anak buahnya. Untuk menghilangkan itu semua, Bandusena memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Saat itu juga seluruh anak buah Bandusena sekira 20 orang mengelilingi Pendekar Tapak Naga.
"Ha.. Beraninya keroyokan, segitu kecilkan nyali kalian!?" ujar Tapak Naga 01.
"Cecunguk ini harus di habiskan, bantaiii." sentak Bandusena dengan suara lantang.
Kembali anak buah Bandusena menyerang membabi buta. Suara suingan dan desiran angin yang di hembuskan senjata masing-masing mengaburkan pendengaran. Bandusena pun tak tinggal diam menyerang membabi buta berbarengan dengan kegusrakan anak buahnya walau ia beringsut mundur.
Kilatan senjata memantulkan sinar yang membuat bulu tengkuk merinding bagi siapa saja yang melihatnya. Tapak Naga 01, melompat kian kemari menghindari serangan Bandusena dan anak buahnya. Sepuluh jurus berlalu. Dengus nafas sudah sesak di rasakan kedua pihak. Tapak Naga juga kewalahan dalam menangkis serangan itu. Ia melompat salto keatas udara sekira tiga putaran lalu dengan cekat menghempaskan pukulan Naga Bunting Menguarkan Api. Ilmu dasar namun sangat mematikan.
Melihat pukulan yang di lontarkan Pendekar Tapak Naga 01, sangat cepat, Bandusena menjahtuhkan tubuhnya lalu berguling kekanan. Pukulan Naga Bunting terelakan namun nyaris mengenai punggungnya. Sempat robek baju yang dikenakan Bandusena, ia segera berdiri lalu melompat kedepan sambil menghempaskan pukulan Racun Penebar Maut. Terdengarlah suara mengerung kearah Pendeka Tapak Naga 01, dengan sigap Pendekar Tapak Naga 01, menangkis dengan pukulan Tameng Penghalang Bukit.
Duaaar...
Suara benturan terdengar dari kedua kesaktian yang dikuarkan oleh masing-masing. Sontak semua yang mendengarnya berhenti sejenak karena terkejut mendengar suara yang sangat menggelegar seantero kampung itu. Suarnya membuat jantung berdegup kencang.
Bandusena terhempas kebelakang, sama hal dengan pendekar Tapak Naga 01, hanya Bandusena lebih jauh terpental sekira setombak setengah. Sedangkan Pendekar Tapak Naga hanya beringsut sambil menahan dengan kaki kanannya di tancapkan ke tanah.
"Sialan!" gumam Bandusena didalam hati. "Hebat, ilmu pukulan Penyebar Mautku di tahan!" Seru kembali Bandusena. Lalu kemudian terasa panas dirasakan didalam dada Bandusena. Ia tebatuk dan merasa sesak seperti ada yang mau keluar dari rongga mulutnya. "Uweeek.." Bandusena segera menguarkan kesesakan dadanya. Darah keluar dari mulut, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Saat itu juga Bandusena menggelepar lalu jatuh petanda nyawanya telah lepas.
Kecutlah anak buahnya melihat sang ketua sudah tak bernyawa. Salah satu anggota Macan Ulung segera memberi komando.
"Kita mundur.." kata orang itu.
Serentak mereka anak buah dari Bandusena, menghentikan pertempuran. Lalu mereka melompat ke kuda-kuda mereka masing-masing dengan hati kecut terpontang-panting melarikan diri.
Sementara itu Kepala Desa Pengasinan mendekat Pendekar gagah ini, seraya mengucap: "Terima kasih Kisanak atas pertolongan Kisanak. Tampa Kisanak, mungki kami sudah menjadi bulan-bulanan Cakar Ulung," terang Kepala Desa Pengasinan penuh takzim. Pendekar Tapak Naga 01 hanya tersenyum menyeringai.
"Baiklah, aku akan berangkat kembali ke arah selatan," kata Pendekar Tapak Naga 01. Ia membalikan tubuhnya untuk melangkah pergi. Baru saja satu langkah, Kepala Desa menepuk pundaknya. "Sebentar Kisanak, saya minta Kisanak bermalam di sini." mohon Kepala Desa dengan wajah berharap agar Sang Pendekar mau menginap didesa itu.
Sang Pendekar tersenyum. Lalu memandang kearah para warga.
"Aku adalah sang naga, melingkari bumi ini. Itulah tempatku," Pendekar Tapak Naga 01 bersya'ir. Lalu tak lama meninggalkan Desa itu di iringi pandangan tazim bagi warga yang melihatnya pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar